#TenDaysBlogChallenge #FinalDay – One Confession

Sejujurnya, saya sangat ingin berhenti melakukan rutinitas yang beberapa tahun ini selalu saya lakukan. Sedikit bercerita, kira-kira satu tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah, saya sempat bilang pada ibu saya, kalo saya ingin mengambil jurusan psikologi. Saya tertarik tentang soal kejiwaan dan hubungan sosial, ya terkait ilmu psikologi.

Namun, karena saat itu saya sudah bekerja kurang lebih satu tahun di salah satu software house, ibu saya bilang, “udahlah lanjutin aja jurusan kamu sekarang”. Saat itu saya mengiyakan perkataan ibu saya itu dan mengabaikan hati kecil saya untuk keluar dari “jalur aman”.

Satu tahun sudah saya menjalani rutinitas: bangun tidur, mandi, kuliah, kerja, tidur malam, bangun keesokan harinya dengan rutinitas yang sama. Rasanya saya begitu sedih memikirkan bagaimana 24 jam setiap harinya saya lewati dengan pengalaman yang sama, tanpa pengalaman baru yang bermakna, ya mungkin mendapat  pengalaman menemukan bug baru dalam aplikasi yang saya kerjakan😦 . Hhhhhhhhfhhhh, terkadang saya menangis sendiri, dan pernah pula sampai pada suatu titik dimana saya ingin berteriak sekeras-kerasnya. Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Tapi saya sadar tak ada bahu untuk tempat saya menangis sembari menenangkan diri dan tidak ada tempat kosong dimana saya bisa berteriak bebas tanpa terdengar oleh siapapun. Saat itu adalah saat yang benar-benar menyiksa bagi saya.

Belum lama ini saya belajar tentang salah satu tokoh Alkitab, kisah Rasul Paulus. Sebelum menjadi pengikut Yesus, Rasul Paulus dulunya adalah seorang yang sangat menentang ajaran Yesus bahkan membunuh murid-murid Tuhan, penghujat, penganiaya, ganas (Kisah Para Rasul 9:1, I Timotius 1:13). Namun dalam kisah selanjutnya diceritakan bahwa Saulus (nama Rasul Paulus sebelumya) akhirnya bertobat dari semua kejahatan yang ia pernah lakukan. Dalam suratnya kepada jemaat Kristen di Filipi, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia membuang segala perkara-perkara dahulu untuk fokus dalam pelayanannya kepada Yesus, bahkan ia menganggap itu semua sebagai tumpukan sampah (Filipi 3:7-8).

Terbersit dalam fikiran saya untuk berhenti kuliah dan berhenti bekerja, berhenti mengejar semuanya, berhenti mengejar kesuksesan, berhenti mengejar kesenangan, berhenti mengejar anggapan orang lain, benar-benar berhenti dibentuk oleh keinginan dan harapan orang terhadap diri saya. Tapi sayang, saya terlalu pengecut untuk mau mulai menghentikannya. Saya takut, rasanya sayang jika memikirkan seluruh materi dan tenaga yang sudah saya korbankan untuk sampai pada titik dimana saya berada saat ini. Saya terlalu pengecut untuk berkata pada ibu saya, “I have my own choice”. Saya terlalu takut mengecewakan orang-orang disekitar saya, saya terlalu takut mendengar anggapan orang lain tentang pilihan yang saya ambil. Namun di sisi lain sayapun takut jika saya terlambat, jika saya tidak punya kesempatan untuk mengejar kebahagiaan saya sendiri dan mengejar hal-hal rohani yang telah lama saya abaikan. Saya takut menjadi seorang yang berlambat-lambat terhadap hal-hal baik dan pelayanan bagi Yehuwa yang seharusnya saya lakukan (Roma 13:11).

Mungkin saat ini saya tidak bisa membayangkan untuk membuang itu semua dan menganggapnya seperti tumpukan sampah layaknya Rasul Paulus, tapi dalam hati kecil ini, saya berharap suatu saat saya diberi kekuatan, diberi keberanian untuk mulai melakukan langkah nyata dari apa yang telah saya pelajari, rasakan dan imani. Saya harap saya tidak berlarut-larut menjadi seorang pengecut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s