Dilanku bukan Dilannya Milea #1

– Dilanku bukan Dilannya Milea

Kalo kamu adalah seorang perempuan dan sudah membaca Tentang Dilannya Milea. Pasti kamu iri pada Milea dan suka pada Dilan, iya kan? Ah kamu bohong kalau bilang tidak!

Aku? Aku tentu suka pada Dilannya Milea, ya itu normal. Bagaimana tidak, Dilan yang membuat Milea bagai seorang wanita paling bahagia, melindungi dan membuat Milea merasa istimewa. Perempuan mana yang tidak suka?

Aku, aku jelas tahu Dilannya Milea sangat sempurna. Namun, Dilanku… Dia tidak sesempurna itu memang, tapi aku suka. Ya, aku suka padanya, lebih dari sukaku pada Dilannya Milea. Kamu tahu kenapa? Karena dia, Dilanku………………

Aku masih ingat, dulu aku tidak suka sama Dilan, tapi tidak benci, aku tak perduli padanya. Tapi sekarang, aku suka, aku suka padamu Dilan.

Dilan pernah bercanda, ya aku tahu itu hanya candaan, dia meminta untuk ku peluk. Karena aku tak menganggap apapun tentangnya, termasuk candaan tak berartinya itu, jadi ku balas saja dengan punggungku, aku pergi membelakanginya. Aku lupa berapa kali dia mencoba mendekati, tapi aku selalu menjauh, aku takut padanya, aku tak terlalu kenal, baru kenal sebentar.Sampai suatu kali, saat aku sedang duduk di tempat tunggu, Dilan menghampiriku dan tiba-tiba duduk di bawah kananku, ya Dilan duduk di lantai! Kamu tahu apa yang ia katakan? ‘Des’, hanya itu, hanya itu yang dia katakan. Aku melihatnya dan menjawab, ‘apa?’. Tapi dia tidak berucap apapun dan hanya tersenyum sambil menyelami retina mataku, rasanya saat itu mataku tenggelam oleh tatapan matanya. Lalu dia pergi, pergi begitu saja ke arah lain, aneh…. memang aneh. Tapi saat itu aku mulai berfikir, tatapan apa itu? Mengapa hatiku rasanya… entahlah rasa macam apa itu.

Suatu kali, aku datang terlambat, itu sebabnya aku duduk di depan. Beberapa saat kemudian, ada yang menepukku dari belakang, itu Dilan! Dia bertanya, “Bagaimana menyelesaikan soal ini?”. Ku jawab alakadarnya, secukupnya, karena aku pun belum selesai mengerjakannya. Belum selesai aku menjawab pertanyaan Dilan, seorang teman di sampingnya berkata, “Iya, kalo udah gini gimana? Aku liat sebentar pekerjaanmu Des”. Belum sempat aku menjawabnya, terdengar suara berbisik, “Aku hanya ingin melihat wajahmu Des”. Refleks ku lihat ke arah sumber suara itu… suara Dilan, Dilan yang saat ku lihat sedang tertunduk. Sebentar ku pandangi dia, ya itu hanya sebentar tapi sebentar yang agak lebih lama dari biasanya. Saat itu, aku berharap dia mengangkat kepalanya agar bisa ku lihat lagi mata itu, tatapan kala itu. Namun, sayangnya tidak, dia berlaku seolah tidak berkata apa-apa, tapi aku tahu dia yang mengatakannya, aku tahu Dilaaaan!

Hari ini aku tidak melihatnya. Dilan, Dilanku ada apa denganmu? Bagaimana keadaanmu? Aku kerinduan ingin melihatmu. Tak habis waktu aku memikirkan kapan kita akan bertemu lagi, 1 hari pun rasanya terlalu lama, ah lama sekali! Apakah kamu sedang sakit Dilan? Jika ya, cepatlah sembuh, agar aku….. bisa melihatmu, melihat wajahmu lagi.

Kamu tahu? Dilanku dalam hal bercanda tidak kalah dari Dilannya Milea, tidak kalah jago, boleh diadu!

“Kamu harus nonton deh running men! Rame banget!”, ujarku pada seorang teman

“Film apaan? Ah cupu”, kata Dilan yang tiba-tiba nimbrung pembicaraan.

“Film korea, rame banget lohhhh Lan”

“Ah ga rame, tau aku juga. Aku mah sukanya nonton… Seputar Indonesia Pagi hahaha”

Lucu nggak candaan Dia? Lebih lucu candaan Dilannya Milea? Tak apa, bagiku setiap candaannya adalah yang terlucu, meskipun hanya aku dan dia yang tertawa, tak apa, selama Dilan yang melakukannya, aku akan terus tertawa menemani candaan-candaannya yang kadang garing itu.

Suatu kali, Dilan mencuri-curi pandang untuk melihatku. Ya, aku menangkapmu basah Dilan! Bukan hanya sekali, kamu berkali-kali memandang dan akupun begitu. Mungkin bisa dikatakan, kita saling menangkap dan tertangkap basah. Kamu tahu kenapa Dilan hari itu lebih sering memandangiku? Mungkin karena rambut baruku he he he. Ah…. Dilan.

Dilan, Dilanku yang kadang-kadang menempatkan diri dekat denganku, tepat disampingku, tak pernah absen membuat aku bahagia. Kami selalu tertawa, ya meskipun karena kadang candaanya yang garing aku menatapnya dingin, lalu dia bilang, “Garing…”. Aku tertawa saat dia bilang candaannya sendiri garing, Dilan tak tertawa…. Aku bahagia karenanya, Terima Kasih Dilan.

Dia bercerita, cerita demi cerita, aku hanya mendengarnya, aku tak ingin menceritakan sesuatu padanya, aku tak ingin salah kata sehingga Dia tak nyaman untuk melanjutkan ceritanya.

“Itu tuh si Sukiman yang kemarin ngabisin kerupuk di Emang Soto, jadi weh aku ga kebagian”, kata Dilan sambil menunjuk plang yang berisi nama-nama orang yang berprestasi.

“Ha ha ha emang kamu kenal?”, kataku.

“Nggak…. ha ha ha”

“Tuh tuh, ada si Sukiman!”, kataku sambil menunjuk orang yang sedang lewat.

“Ih ga sopan ih. Desi ngga boleh gitu”

“Ih kamu juga yang duluan”

“Ha ha ha ha ha”, kami tertawa berdua.

Saat itu keadaan sangat ramai, tapi aku merasa hanya ada aku dan Dilan disitu, hmmmm.

Dilan saat itu terlihat sedang kurang sehat, sesekali dia seperti mengantuk. Aku tak berani bertanya kenapa… Tapi aku kasihan padanya. Dilan jangan kurang tidur, nanti kamu sakit!

Kemarin aku datang terlambat, saat aku sampai, kulihat Dilan, Dia sedang berpangku tangan dan tak melihat ke arahku, kenapa? Aku tak ingin bertanya kenapa, tak apa. Ku jahili Dilan dengan menabraknya kecil, “Eh Desi jahil yaaa”, katanya sambil melihatku dan tersenyum pucat pasi. Hari itu, hanya 1 kalimat itulah yang dia berikan padaku, tapi tak apa, aku senang bisa melihat senyumnya.

Dilan pernah berkata, dia ingin berada dekat denganku, tapi mengapa hari ini kamu tak datang? Saat aku sampai, aku mencarimu, tapi kamu tak ada. Aku tunggu kehadiranmu, aku belum lega, tapi kamu tak kunjung datang Dilaaaaaaaan…….. Oh ya, kemarin aku ingat kamu terlihat pucat, apakah kamu sakit jadi tidak bisa hadir? Aku tahu kamu sering pilek, batuk-batuk, sering banget! Tapi tidak biasanya kamu tidak hadir, pasti kamu tetap bela-belain hadir. Kenapa hari ini tidak? Apakah sakitmu parah sekali? Seberapa sakitkah Dilan? Aku sangat ingin meng-sms mu menanyakan itu, tapi aku… aku tak tahu mengapa aku tak melakukannya.

Aku ingat, saat aku mulai menyukaimu, aku sempat bercerita pada seorang teman.

“Cieee Desi cieee”

“Ah tapi ngga tau juga dia suka atau ngga”

“Eh tapi gak apa apa. Deket-deket juga udah seneng kan?”

“Ehmm, enggak ah. Aku harus memilikinya biar seneng!”

“Ih, aku mah kalo suka, asal sering deket juga gapapa udah seneng he he”

“Beda ah, beda sama aku”

Tapi hari ini, saat aku selesai membaca tentang Dilan dan Mileanya ayahpidibaiq dan saat kamu tidak hadir jadi aku tak bisa melihatmu, aku sadar. Aku sadar aku tak lagi ingin memilikimu Dilan….. Aku hanya ingin berada di dekatmu. Eh tidak deh, aku hanya ingin melihatmu, ya itu cukup. Tapi, kalau kamu ingin di dekatku, lebih baik, tak akan ku tolak he he he.

Dilan…. Aku mengantuk, aku tidur dulu yah ditemani lagu Berdua Saja milik Payung teduh ini. Istirahatlah yang banyak agar kamu lekas sembuh.

Dari aku, aku…………yang merindukanmu.

12 thoughts on “Dilanku bukan Dilannya Milea #1

  1. hey milea siahaan apa kabar ? ha ha.

    iseng googling dilan milea, dan nyasar kesini, dan ternyata punya si desi.
    lanjutken des, siapa tau di taun 2098 nanti bisa ngalahin novel dia adalah dilanku karyanya si surayah pidi baiq.

    salam buat dilan des ha ha.

  2. Kiri says:

    Googling dilannya pidi baiq malah masuk kesini..

    bagus ceritanya, dilanjutin aja, siapa tau bisa jadi sinetron hehe..

  3. muqita says:

    baru nyadar lah ini blognya si bulu….
    maksud hati nyari blognya pidibaiq eh nyasan kesini..
    buluuuuu…kapan kenalin dilanmu ke akuuuu

    • Desi Tiffani says:

      disini juga kan ada link blog pidibaiq muk, jadi ngga kesasar kan😉
      aku gabisa kenalin dia muuuuk, dia invisible hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s