Hai Lan… #3

* Play dulu, pasti kamu ngga bakalan nyesel. Menurutku, ini soundtrack  yang tepat.


“Hai Lan”, itu adalah kata-kata pertamaku setelah satu bulan lamanya aku tidak melihatmu.

“Kenapa Lan?”, lanjutku.

Aku sangat tenang kan Lan? Ya, aku memang pandai menenangkan diri! Aku sudah berlatih sebulan lamanya untuk jaga-jaga siapa tahu aku bertemu denganmu, dan ternyata benar saja. Tahukah kamu Dilan, saat kalimat ‘Kenapa Lan‘ keluar dari mulutku, bersamaan dengan itu otakku berkata pada hatiku, “Ada apa denganmu ti? Berhentilah bergejolak seperti itu!”

Aku pikir setelah satu bulan, hatiku sudah pensiun untuk bergejolak di depanmu, tapi ternyata tidak, dasar ti, ti…

Dilan, bagaimana kabarmu? Aku lupa menanyakan itu saat kita bertemu kemarin. Aku harap kamu baik-baik saja, apakah kamu sempat sakit lagi? Semoga tidak ya. Baiklah, sudah cukup kata-kata pembuka dariku. Tulisanku kali ini untuk menjawab tulisanmu kemarin.

Jujur saja Dilan, aku tidak mau menyukaimu lagi. Benar-benar tidak mau lagi. Kamu tahu kenapa Dilan? Karena aku ingin berhenti menyakiti diriku sendiri, aku ingin beristirahat dari kelelahan memikirkanmu.

Dilan, kamu adalah pria baik dan pria tertampan bagiku, setidaknya sebelum satu bulan kemarin. Aku ingat kurang dari satu bulan yang lalu, aku melihat punggung tampan dengan kemeja kotak-kotak. Lalu saat aku berjalan maju dan berbalik, aku melihat wajah bugarmu, aku senang Dilan, aku senang! Kamu pasti tidak tahu betapa senangnya aku saat itu. Terlebih lagi, belum sampai sepuluh detik aku muncul di daerah pandanganmu, kamu lekas memanggilku, ‘Des!’. Hhhhhh, aku jadi berdegup lagi dengan hanya memikirkannya. Aku melihat ke arahmu, kamu bilang sesuatu, tapi aku tidak perduli, aku hanya tersenyum. Ya, setidaknya orang tidak akan tahu kalau aku senang sekali kamu memanggilku, jadi aku punya alasan untuk memandangimu dan bahkan tersenyum padamu tanpa dicurigai…..ekekekek

Kamu Dilan, kamu yang hari itu sekitar empat kali memegang lenganku dan sekali berlutut di depanku, juga tersenyum berkali-kali padaku. Pagi itu rasanya, aku mendapat energi berlimpah! Hap, hap, hap! Terima kasih Dilan untuk kelakukanmu yang menyalurkan energi-energi positif ke setiap bagian hatiku.
“Des, aku anterin yah nanti.”
“Anterin kemana Lan? Kan aku bawa motor.”
*senyum kecil*
*senyum kecil juga*
——– Aku suka kamu Dilan.

Tapi Dilan, di luar rasa sukaku padamu, aku juga lelah menciptakan segala khayalan gila tentangmu, aku harap mengertilah. Aku fikir, kamu dan aku tidak akan pernah bisa menjadi Dilan dan Milea yang happy ending. Ini mungkin yang dinamakan takdir. Aku tidak menyalahkanmu Dilan, tidak sama sekali, jadi janganlah merasa bersalah ya…. Kamu sudah cukup baik memberikan kenangan-kenangan lucu dan berkesan yang setidaknya bisa membuatku tersenyum dan bersyukur pernah mengenalmu. Ini semua bukan karena mu, tapi karena aku sendiri.

Sungguh tak mudah bagiku, menghentikan segala khayalan gila, jika kau ada dan ku cuma bisa meradang menjadi yang di sisimu.

Dilan, otakku sering kali memarahi hatiku karena menyukaimu. Terkadang, hatiku menangis karena sang otak berkali-kali memarahinya. Aku kasihan pada hatiku. Aku pikir, akan lebih baik bagiku untuk berhenti berada di dekatmu, bahkan melihatmu! Dilan, sepertinya hatimu tidak perlu dikasihani bukan? Hati dan otakmu terlalu acuh pada hal-hal sepele seperti ini.

Kamu bilang kamu ingin agar aku datang terus ke kelas itu agar bisa kamu lihat?

Pernahkah kamu berfikir bagaimana keadaan hati dan otakku nanti?
“Kenapa kamu ada disini!!!!”, kata otakku.
“Haaaah Dilan. *dug dug dug”, kata hatiku.
*blank* (wajahku).
Inilah keadaanku saat kamu membuka pintu kelas di hari sabtu kala itu. Kamu bisa bayangkan, bagaimana aku aku selanjutnya jika kamu terus memunculkan diri di hadapanku?

Dilan, rasanya aku ingin kabur, kabur sejauh mungkin saat kelas berakhir. Aku berjalan secepat mungkin sambil membujuk hatiku yang terasa berat ikut melangkah. Tapi, nasibku sungguh tak mujur.
‘Des!’, aku mendengar suara itu, dan itu adalah suara yang ku takuti, suaramu….
Aku tak mungkin bisa kabur atau pura-pura tak mendengar, kamu sudah ada tepat di belakangku. Kamu berlari cepat sekali Dilan! Kenapa kamu tidak berlari secepat itu juga saat aku sudah memberi tanda balasan atas signal mu? Ah, sudahlah…..

Sambil berusaha tersenyum kecil, aku mengerahkan sisa-sisa kerelaan otakku dan kegugupan hatiku untuk berkata, ‘Hai Lan!’. Mungkin bagimu, itu hanya dua kata biasa, ‘hai’ dan ‘Lan’. Tapi aku harap, setelah kamu baca ini, kamu tahu betapa kata itu bukanlah sekedar biasa.

Aku berbalik, aku melihat senyum indahmu tepat berada di hadapanku. Ada keinginan licik hatiku untuk mengangkatkan tanganku pada posisi memeluk! Hati yang licik! Licik, licik, licik! Untung saja, otak dan tanganku bisa menahannya, fiuhhh…. Panjang lebar kamu bertanya dan aku menjawab, membuat aku semakin resah, membuat aku semakin ingin cepat sampai ke parkiran untuk kabur dari sampingmu.

Dilan, aku tidak akan pindah kelas. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya tidak bisa melihat orang yang ingin ku lihat. Itu menyedihkan, aku tak ingin kamu merasakannya. Setidaknya sampai kamu bisa berhenti ingin melihatnya, akan kupenuhi keinginanmu. Tapi bolehkah aku meminta satu hal? Kali ini aku harap kamu mau mewujudkannya.

Janganlah perlihatkan dirimu di depanku! Jika kamu terpaksa atau tidak bisa menyembunyikan diri, tutuplah wajahmu, biar aku tidak bisa melihat. Duduklah selalu di belakangku, agar aku tak perlu melihat punggungmu. Dan jangan panggil aku setelah kelas usai, seperti yang kamu lakukan kemarin.

pergilah

Berhentilah menjadi Dilan yang baik dan membuatku bahagia, berhentilah Dilan. Buatlah dirimu bukan lagi menjadi Dilanku, entah kamu mencari Milea lain, terserahlah. Aku hanya ingin, kamu tidak lagi menjadi bagian dalam hidupku. Jika kamu hanya muncul sekelebat, mungkin aku bisa menangani hatiku yang manja ini.

Dilan, apa aku jahat? Apa hatimu merasa sakit? Jika tidak, baguslah, aku lega… Jika ya, hmmmm, Dilan jangan sakit! Kamu tidak perlu merasa sakit karena orang sepertiku, aku mohon Dilan jangan berfikir keras soal ini, aku tidak mau kamu sakit. Dilan, ini hanya wujud kelelahanku, kelelahan terus berlari tanpa kamu kejar. Kelelahan terus, terus menerus berharap tanpa kamu penuhi. Aku harap kamu mengerti. Dan…. pergilah Dilan.

Dilan, ini hanya soal waktu, aku pikir kita, eh maaf…,  aku dan kamu akan bisa menyelesaikan semua ini. Kisah yang seharusnya tidak kamu mulai, atau mungkin kisah yang sebenarnya tidak perlu aku tanggapi serius saat kamu mulai.

Terima kasih Dilan, bahagialah.

2 thoughts on “Hai Lan… #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s