Respect

Ada sesuatu yang “aneh”. Mungkin itu yang hatiku rasakan. Saat orang tidak merespek, rasanya seperti ada titik hitam di hati. Yang, aku yakin, dia (yang tidak merespek) ngga tahu. they-say-words-will-never-hurt-meSaat aku hanya mengeluarkan satu kalimat, waaaaah kritik demi kritik menimpalinya. Aku pikir, ‘lebih baik tidak perlu ngomong, salah terus’. Dan memang, diam benar-benar adalah emas saat berbicara dengan orang yang seperti ini.

Tapi, jadi muncul pertanyaan, mengapa ia melakukan itu? Apakah itu sudah menjadi kebiasaannya? Tapi mengapa dia tidak melakukan itu ke semua orang? Apa ada yang salah dari aku? Jika memang aku (sangat) salah, mengapa tidak semua orang seperti itu padaku, kenapa hanya dia?

Apakah respek pada seseorang harus pilih-pilih? Apakah menghargai seseorang, harus dilihat dari tampang dan prestasi? Apakah respek itu mahal? Apakah sekarang ini, merespek adalah hal yang sudah tidak wajar??

Jika memang untuk semua pertanyaan di atas, jawabannya adalah ya. Maka seharusnya tulisan ini tak perlu ada. Tapi aku (juga mungkin kamu) berpikir, bahwa jawabannya tentu tidak. Lalu mengapa, ‘tidak merespek’ seolah sudah menjadi hal lumrah?

 

Sekarang ini, kata ‘tolong‘, ‘terima kasih‘, apalagi ‘maaf‘, rasanya sudah terlalu mahal untuk diucapkan. Mungkin bahkan kata itu sudah hampir punah hahahaha.
Aku bantu sebisaku, tapi kamu hanya bilang, makasih tanpa melihat wajahku. Apa itu ucapan terima kasih untukku? Tak jelas.
Aku tolong dan kasihi sebisaku, tapi kamu malah memojokkan aku. Apa kamu tahu diri?
Kamu tahu, aku sebal dengan perkataanmu, bahkan aku tak mau menatapmu saat kamu berkata seperti itu. Kamu jelas tahu, tapi apa kamu merasa bersalah? Tentu tidak, karena kamu selalu merasa apa yang kamu katakan adalah benar, dan aku salah.

Kamu pernah dengar istilah biologi, Simbiosis Mutualisme? Saat satu sel berpaut pada sel lain, tapi sel lain itu juga mendapat keuntungan. Ya, hubungan mereka saling membantu, dan tentunya merespek! Menurutku, dalam kehidupan sosial manusia sekarang ini sudah tidak dikenal istilah simbiosis mutualisme, banyak orang (mungkin aku juga) sudah egois dan ingin menang sendiri. Tak mau kalah dari orang lain. Bahkan, cenderung menjadi benalu dan tidak tahu terima kasih (ini sudah stadium parah). Banyak orang bahkan tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah (atau mungkin tidak salah, tapi tidak merespek),
banyak orang (mungkin aku juga) tidak tahu, bahwa dirinya sudah kena penyakit hati.

Lalu dengan siapa aku (mungkin juga kamu) harus berteman, saling membantu dan mengasihi dengan tulus? Setidaknya saling mau belajar untuk melakukannya, karena aku (dan juga kamu) kan bukan manusia sempurna. Iya kan? Aku pikir (mungkin kamu juga berpikiran sama), aku (dan kamu) tidak bisa berteman dengan orang yang memiliki prinsip ‘pertemanan’ berbeda.

Prinsipku, teman itu harus ada saat suka dan juga susah, bukan saat senang saja, apalagi saat butuh saja (ini penyakitnya sudah kronis banget). Teman itu harus bisa saling membantu, bukan hanya ingin dibantu. Teman itu ngga boleh memojokkan, tapi menyarankan. Teman itu ngga usah liat status sosial, eksis atau ngganya di jejaring sosial, pinter atau ngganya, cantik atau ngganya, ganteng atau ngganya, ngga perlu sih menurutku. Yang aku lihat, hanya satu, mau menghargai dan mengasihi dengan tulus. Itu prinsipku, bagaimana prinsipmu? Jika kamu, memiliki prinsip yang kurang lebih sama, aku rasa kita bisa berteman baik.

my-friends-if-you-respect-me-i-will-respect-you-facebook-tag

Aku berpikir soal frasa yang berkata, ‘Perbedaan itu indah’. Apa yang indah dari perbedaan? Menurutku, indah itu saat perbedaan dilebur menjadi persamaan. Tentu bukan hanya satu pihak yang menyesuaikan perbedaannya, tapi kedua belah pihak. Aku tidak bisa memaksa orang lain mengubah sifat dan prinsipnya, saat aku (mungkin juga kamu) sudah mau mengubahnya. Tapi, bukankah keindahan saat kita semua, memutuskan untuk merendahkan hati dan berempati? Bukan dengan topeng dan senyum palsu penuh kemunafikan, tapi dengan senyum dan sikap yang begitu tulus dalam berteman satu sama lain.

🙂 Tak perlu, banyak emot senyum, satu saja udah cukup kan? Gausah terlalu lebay dan dibuat-buat hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s