Awal Aku Menyukaimu #4

Hai Milea! Sore ini sedang hujan, besar sekali. Aku jadi ingat dulu, setahunan yang lalu, kita pernah menunggu hujan reda, tidak berduaan memang, banyakan, tapi setidaknya kita bersama, iya kan? Hehe. Waktu itu kita nonton film animasi bareng di laptop si Kimi, film apasih judulnya? Aku lupa lagi.

*googling dulu*

Ooooh, Megamind! Aku duduk disamping kirimu, aku mepet-mepet duduk di kursi panjang itu padahal udah penuh, aku nyebelin banget ya Milea? Tapi ngga apa-apa yang penting aku deket-deket kamu :p . Lalu setelah setengah jaman, hujan reda, kamu mau pulang, terus aku bilang

‘Mau kemana? Masih hujan…’

‘Gapapa, udah reda, aku bawa payung’

‘Yaudah aku nebeng payung kamu….’ *muka sumringah*

‘Yaudah ayo’

‘Tapi sampai rumah aku, boleh gak?’

*muka kamu kaya ngomong gini –“ya menurut looooo”-*

Terus kamu ngga ngomong apa-apa, cuma masang wajah itu dan pergi. Tahu ngga Milea, dulu kamu jutek banget! Milea, aku mau cerita sesuatu, mungkin kamu kesal, tapi aku benar-benar ingin menceritakannya. Ini tentang………… awal aku menyukaimu.

Aku tak bisa bilang, bahwa sejak awal aku menyukaimu, tapi aku bisa bilang, bahwa sejak awal aku sudah tertarik padamu. Sejak kamu membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa, kamu udah telat satu jam lebih, tapi kamu tetep masuk. (padahal menurutku kamu ngga usah masuk :p ).

Kamu diketawain temen-temen sekelas, yaiyalah kamu telat gitu keterlaluan hahahahaha . Muka kamu lucu banget Milea pas masuk, kaya yang ketakutan gitu, polos banget. Aku pengen kenalan sama kamu, tapi aku malu. Aku ngga berani nyapa kamu, aku merasa kamu bukan cewe yang gampang disapa, entah kenapa aku merasa begitu.

Satu, dua minggu berlalu, kita tak kunjung saling menyapa. Sampai akhirnya, di lab, kamu duduk di belakangku! Aku jadi sering noleh ke belakang, nanya ke kamu tentang pelajaran. Saat itu aku beneran ngga modus loh, aku bener-bener serius nanyain hahaha. Kita setidaknya sudah saling ngomong walaupun belum akrab, masih canggung.

Suatu hari…….. aku minta nomor kamu ke si Miko, dia kasih, dia ngga curiga, soalnya aku bilang mau nanyain tugas hahaha. “Asik”, dalam hatiku. Akhirnya malem-malem, aku sms kamu,

‘Kalo abjad bisa disorting ngga sih?’

Terus kira-kira 15-20 menit kemudian, kamu baru bales.

‘Bisa’

Hmmmmmmm, Mileaaaaaa! Kenapa balesnya singkat banget sih? Tapi ngga apa-apa lah, kamu bales sms aja, aku udah seneng. Terus aku bales aja, ‘peluk dulu atuh😦 ’ . Aku pengen tahu tanggapan kamu, dan balesan kamu,

‘Zz’

Aduh Milea! Aku bete banget, kebanggaan aku sebagai cowo ganteng dan gaul sudah kamu rendahkan! Akhirnya aku memutuskan untuk ngga bales lagi sms kamu, biar aku ngga keliatan cowo watir banget yang dijutekin sama cewe wkwkwkwk.

Besoknya, pas lift terbuka, aku liat kamu lagi duduk di lantai ngajarin si Miko. Terus aku bergegas keluarin tugas aku yang ada di tas, aku tunjukin ke kamu, aku langsung duduk depan kamu.

‘Mileaaa, yang ini nih gimanaa?’, *senyum modus*

Nah kalo yang ini aku akuin, selain mau nanya dan minta ajarin, ada modus juga pengen deket-deket kamu =))

Kalo diceritain terus, kayanya aku bakal ketawa terus nih hahaha. Kamu ketawa ngga pas inget cerita ini? Disinilah Milea, disini aku sadar bahwa aku sudah jatuh hati padamu, aku suka kamu. Saat malam itu kamu bales ‘zz’ aja, terus aku liat kamu pagi itu, aku tahu dan bisa sepakat dengan hatiku, bahwa aku menyukaimu.

Aku tak berani mendekatimu, apalagi mengatakannya. Bukan karena aku pria pengecut, sebelumnya aku pernah kok menyatakan perasaanku pada wanita. Tapi denganmu, ini hal berbeda, kamu berbeda Milea. Karena ini, akhirnya aku malah terkesan menutupi perasaanku dan seolah bilang bahwa semua modus-modusan yang ku lakukan hanya sekedar bercanda. Aku malah suka ngejekin kamu dan cie-ciein kamu sama cowo lain, aku senyum, ketawa, padahal aku bete, aku sama sekali ngga mau kamu sama cowo lain, meskipun dia temen aku.

Milea, aku tahu kamu ngga mau membahas kisah kita ini, kisah yang menurutku unik. Aku tidak mau melupakan ini, seperti katamu di tulisan terakhir. Tapi jika kamu memang benar-benar ingin, maka aku bisa berpura-pura melupakannya. Aku pandai berpura-pura, itu mudah, seperti selama ini aku berpura-pura tidak menyukaimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s