Balas Dendamlah (tanpa henti)

-Balas Dendamlah, tanpa henti, ya tanpa henti….

How a ‘nice’ became a ‘bad’? How? How? Why? Why?

Saat kita berusaha berbuat baik pada orang lain, apa yang kita harapkan? Pada dasarnya kita tidak berharap apapun, kita tulus ingin membantu. Tapi saat bantuan itu tidak dihargai dan bahkan dikata-katain apa yang akan kita rasakan? Saat orang yang kita bantu malah membuat kita merasa kecewa. Tapi dia, dia mungkin tidak sadar, entah merasa ‘ogah’ untuk ambil pusing soal perasaan ‘temannya’. Sekarang, pertanyaan di bagian pertama tadi sangat cocok bukan?

“HOW A ‘NICE’ BECAME A ‘BAD’?”

Rasanya sungguh tidak adil, kalo isi postingan ini semua keluhan dan keluhan. Apa manfaatnya? Apa manfaat dari baca-baca masalah orang? Ya, ngga ada, ngga ada sama sekali. Tapi dengarlah sebentar saja, agar kamu mengerti.

Saat itu, rasanya dada saya sesak sekali, saya benar-benar ingin meledak, wajah saya memanas. Sepertinya rasa marah, kesal, ga habis pikir, menyesal, sedih, semuanya menjadi campur aduk. Saya benar-benar ingin cerita, ingin meluapkan perasaan sedih yg bercampur baur itu. Tapi, saat itu saya hanya sendiri di sudutan ruangan, di tengah keramaian. Saya berusaha menenangkan diri, menarik nafas dan menghembuskannya. Tapi rasanya tidak juga lega. Bagaimana ini? Saya takut menangis disitu, saya takut😦

Akhirnya saya memutuskan untuk mengalihkan pikiran saya dengan membaca. Saya buka ayat harian saya*, daaan….kamu mungkin ngga percaya, di halaman itu ada satu pembahasan yang cocok banget! Cocok banget dengan perasaan yang sedang saya coba kendalikan! Saya baca lagi, baca ulang lagi, mungkin sekitar 3-4 kali saya baca ulang paragraf itu. Saya tarik nafas dan akhirnya…. tersenyum kecil. Saya merasa sangat lega! Rasanya sebagian besar rasa ga karuan itu seolah hilang bersama hembusan nafas saya.

Lalu, ‘seseorang’ yang telah menyakiti saya tadi datang…. Yang saya rasakan saat itu adalah tidak habis pikir….Kenapa kamu tega? Kenapa kamu menyebalkan banget? Kenapa kamu kaya gitu? Apa kamu ga pikirin perasaan aku, temen kamu sendiri? Setelahnya, ‘yasudahlah, mau diapain lagi’. Saya mencoba menyembunyikan rasa sakit yang tadinya saya rasakan dan tersenyum padanya. Tapi saya tidak bisa bermuka dua, tetap saja ada rasa kesal, ya mungkin dia pun sadar dengan raut wajah saya. Tapi saya berusaha untuk bersikap biasa saja, tersenyum, sebisa saya menutupi perasaan.

Pelajaran, be positive is always make you better! Just be positive even there is no reason to be positive.

Setelahnya gimana? Jujur saya masih merasa sedih, dan bahkan saat membantu dia ‘lagi’ pasca dia melakukan itu, saya merasa sangat kesal, dan berkata dalam pikiran, ‘enak banget yah jadi kamu, udh nyakitin, bersikap dingin, terus ngerepotin lagi, dasar gatau malu.’ Saya benar-benar ga peduli apa kata kalian, mau bilang saya pamrih, terserah. Saya bukan manusia sempurna, saya juga ngga pernah ngarepin imbalan. Tapi apakah bersikap biasa saja, gausah nyenenginlah, biasa aja, jangan nyakitin, berharap gitu aja sama orang yg udah kita bantu dengan tulus, apakah muluk? Apakah salah?

Malamnya, saya berpikir lagi, dan setelah sendirian, lebih tenang. Hati nurani saya bilang:

HN : “Balas dendam? Apakah dengan balas dendam, dengan berhenti bantuin dia, berhenti bersikap baik dengan dia, akan mengubah keadaan? Apakah dengan melakukan itu, kamu akan lebih baik dan merasa senang? Belum tentu! Lihat hari ini, dengan kamu berusaha tetap bersikap biasa, apakah kamu lekas rugi?”
AKU : “Tapi kalo aku ngga berhenti bersikap baik, aku akan lebih sakit lagi ke depannya. Setidaknya biar dia tahu diri dan ngga bersikap semena-mena lagi padaku!”
HN : “Apakah dengan melakukan itu kamu tidak akan merasa bersalah?”
AKU : “entahlah….”
HN : “Ikhlaskan saja dia menyakitimu, jika kamu menyakitinya juga, berarti kalian sama saja…”
AKU : “Tidak! Aku tidak sama dengannya!”
HN : “Kalau begitu tetaplah menjadi dirimu, teman yang membantunya”
AKU : “Lalu, apakah aku harus terus menyusahkan diriku untuk membantu orang seperti dia?”
HN : “Lakukanlah, selesaikanlah, setidaknya sampai waktu yang tepat, waktu yang tepat untuk berhenti.”
AKU : “Maksudnya?”
HN : “Aku mengerti, manusia akan terus meminta, terus ingin bergantung pada orang lain, kasarnya keenakan. Akhirnya, akan ada yang dimanfaatkan dan memanfaatkan.”
AKU : “Ya, seperti dia! Dia memanfaatkanku tanpa tahu malu!”
HN : “Ya, hentikanlah, hentikan dengan cara yang halus… Tanpa bermaksud menyakitinya.”
AKU : “Aku tidak berniat menyakitinya, aku hanya ingin bersikap lebih baik pada diriku sendiri. Aku tidak ingin terus menerus menyakiti diriku sendiri untuk berkorban demi orang lain.”
HN : “Ya, itu memang tidak adil untuk dirimu, bahagiakanlah dirimu.”

Esoknya….. Pagi-pagi biasa
Saya pergi ke lantai atas rumah saya, melihat matahari yang tertutup oleh awan, awan yang sangat indah, saya suka awan, menenangkan. Tarik nafaaaaas, hembuskaaaaan………….Hhhhhhhhhhhhhhh

“Balas dendamlah, balas dendamlah dengan bersikap baik padanya. Buatlah ia tidak memiliki alasan untuk menyakitimu (lagi). Tapi jika ia melakukannya lagi, maka balas dendamlah lagi… Jika ia lagi lagi melakukanya, maka lagi-lagi lah balaskan dendammu…. dengan bersikap normal dan tidak berhenti membantunya…. sebisamu, semampumu, jangan memaksakan. Dan tetaplah tersenyum🙂 “

Itu kesimpulanku, dibantu dan dibimbing oleh Yehuwa melalui Alkitab dan semua kebaikannya.

“Lebih bahagia memberi daripada menerima” – (Kis 20:35)

Dear Desi:
Belajarlah dari Tuhan, bagaimana ia mengampunimu, bagaimana ia tetap membantumu meski kamu sering menyakiti dan mengecewakannya. Tuhan sudah sangat mengasihi dan bersikap baik padamu, maka lakukanlah itu pada semua orang. Setidaknya lakukan ini demi Tuhan, Bapak Yehuwa yang terus mengasihimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s