Selamat tinggal Dilan #5

Ini mungkin adalah tulisan terakhirku tentang Dilan. Ini tidak khusus ku tujukan untuk Dilan, aku hanya ingin kalian tahu, semua ini bukan salah Dilan, tapi salahku. Bukan Dilan yang menyakitiku, tapi aku yang menyakiti Dilan.

Dilan, aku tahu betapa munafiknya aku saat aku bersikap dingin padamu. Betapa aku bermuka dua bukan? Kamu bingung harus memperlakukanku seperti apa. Terkadang aku begitu hangat berbicara padamu, terkadang juga sangat dingin, tapi apa tanggapanmu? Kamu terus terusan tersenyum.

Dilan, aku tahu kamu bukanlah pria yang lembut, kamu pria yang kerap berbicara kasar. Dulu, aku ingat kamu terkadang menggunakan seruan kasar untuk memanggilku, aku menegurmu, dan kamu minta maaf. Sejak itu, kamu tak pernah lagi melakukannya.

Dilan, kamu bahkan mau, ku suruh untuk menemaniku, tapi aku, aku lagi-lagi bersikap menyebalkan dengan mengolok-olok kebaikanmu. Aku, aku selalu bilang, bahwa kamu tidak pernah bersikap baik padaku, aku selalu menutup mata atas kebaikanmu, dan terus mencari kesalahan yang seolah kamu lakukan, padahal aku yang menciptakannya.

Dilan, kamu bahkan mau, untuk pindah dan duduk disampingku, saat orang lain tak mau melakukannya. Kamu bahkan mengabaikan kekhawatiranmu akan pikiran orang lain tentangmu yang sedang asik menceritakan kisahmu padaku. Kamu tertawa, kamu tersenyum Dilan, senyummu sungguh indah, bagiku itu adalah senyum ketulusan.

Suatu hari, kamu membuatku sangat kesal, kamu membuatku kecewa. Kamu tidak menghiraukanku untuk pertama kalinya. Aku bertanya-tanya, mengapa kamu seperti itu Dilan. Aku terus menyalahkanmu, menyalahkan kelakukanmu yang seperti itu.

Kamu memberitahuku sesuatu, sesuatu yang dulu ku khawatirkan kau lakukan. Dulu, aku bertanya, “apa kamu melakukan itu Dilan?”, kamu bilang, “ngga ko”, aku sungguh lega. Tapi sekarang, kamu bahkan melakukannya Dilan, kenapa? Itulah yang seharusnya ku tanyakan padamu saat kamu memberitahuku. Tapi apa yang kulakukan? Aku menatapmu dingin, seolah berkata “aku tidak perduli”, kamu masih saja tersenyum! Lalu, kamu meminta tolong padaku, dan ku balas dengan kata kejam “males banget” dengan wajah menyebalkan, bahkan jika aku melihat sendiri wajah kejam itu, aku ingin menamparnya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu tetap tersenyum melihatku lalu pergi, pergi menghampiri ‘nya’. Aku kesal Dilan, kamu tahu aku sangat kesal padamu, kesal padamu yang lebih memilih’nya’.

Dua hari kemarin kita bertemu dan kamu bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun untukku. Hanya satu senyuman darimu, saat kamu melakukan hal bodoh dan aku menoleh ke arahmu. Itulah hari pertama kamu berubah.

Hari ini, aku bertanya-tanya, apa yang kamu lakukan, apa yang akan kamu katakan saat melihatku, yang biasanya tidak bisa kamu lihat di hari yang sama. Tapi saat aku refleks tersenyum melihatmu, kamu bahkan tidak melihatku, seolah kamu bilang, “aku tidak perduli kamu ada disini atau tidak”. Aku bahkan tanpa rasa malu, berbicara padamu, kamu sedikit menolehkan kepalamu dan, dan…. Aku melihat tatapan yang berbeda, seolah kamu berkata, “siapa kau?”. Aku sungguh, aku sungguh tak tahu apa yang harus ku lakukan.

Aku meruntun lagi penggalan-penggalan kisahmu, kisahmu padaku. Aku, maafkan aku Dilan, karena keegoisanku, karena kepalsuankulah, kita jadi berada pada posisi ini. Mengapa kamu dulu lebih memilihnya? Mungkin kamu berpikir, bahwa aku tidak nyaman bersamamu, kamu tidak ingin merepotkanku, makanya kamu minta bantuan pada’nya’. Mengapa kamu berhenti melakukan kemodusan-kemodusanmu? Karena aku tidak menghiraukanmu lagi, karena kamu berpikir, “ah, maafkan aku yang telah mengganggumu”.

Andaikan, bumi memberiku kesempatan untuk kembali pada 1 tahun yang lalu, saat aku seolah membuka hati padamu, aku ingin menghapus hal itu. Jika itu tidak ku lakukan, mungkin kamu tidak pernah merasa bingung akan sikapku. Dan jika aku tidak pernah singgah untuk menghiraukan kata-katamu, kamu mungkin sudah berhenti berusaha mendekatiku, dan aku tidak akan pernah bersikap dingin padamu. Ya, mungkin kita bisa menjadi teman biasa. Ini memang salahku, kebodohanku, keegoisanku yang ingin memilikimu dam sekarang berubah pikiran ingin membuangmu jauh-jauh.
Inilah aku Dilan, wanita jahat yang telah kau lupakan. Aku memang pantas untuk kau lupakan, lupakanlah Dilan, aku pun, sebisaku, aku akan menghindar untuk menampakkan diriku di depanmu.

Inilah tulisan terakhirku, kalimat terakhirku, Selamat tinggal Dilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s