Usaha “Mengejar Angin”

“Mengejar angin”, menurutmu apa arti frasa itu?
Jika dipandang secara harfiah, apakah angin bisa dikejar? Jika bisa, apa mungkin bisa didapatkan? Bisa ditangkap?

Ini adalah usahaku, usaha mengejar angin yang sudah ku lakukan entah sejak kapan. Anginku adalah kebahagiaan, terserah kamu mau merasa bosan dengan tulisanku soal kebahagiaan, tapi aku tak akan bisa merasa bosan sebelum aku mendapatkannya.

Aku berusaha mengejar anginku dengan memaksa diriku untuk bekerja keras agar mendapatkannya. Aku mengejar angin sesuai dengan keinginan anginku.

Bingung? Begini, aku ilustrasikan. Pernahkah kamu mengejar anak kecil? Jika kita mengejarnya, apa yang ia lakukan? Ia tentu akan berlari! Itu adalah keinginannya, ia ingin dikejar. Aku berpikir, ini tak berbeda halnya dengan anginku, ia ‘caper’ dan ‘so penting’ sehingga ingin ku kejar.

Aku mengejarnya terus, aku sampai kelelahan, aku sampai sakit punggung, pegel-pegel, sakit kepala, semua demi dia. Dia jadi so merasa berharga dan bilang kepadaku, “kamu tidak akan bisa menangkapku, ha ha ha”. Hih, menyebalkan, keterlaluan!

Inilah fenomena, dikejar dan mengejar. Terkadang, aku jadi terlalu berambisi, berambisi ingin mendapatkan dia. Aku kuliah, aku kerja, aku ingin melakukan ini itu, yang dulu ku kira adalah arah anginku. Namun, sebenarnya aku sedang berusaha mengejar angin,  angin yang lain, yakni angin kesia-siaan. Anginku yang sebenarnya sedang tertawa dan bilang, “apa yang sedang kamu lakukan? Kamu bodoh, kamu mau kemana? Aku disini”. Ia berada di arah yang berlawanan dengan arah lariku. Tapi bagaimana? Aku sudah berlari terlalu jauh.

Lihatlah, aku bahkan sudah setengah jalan menuju ujung sana, ujung angin “kesia-siaan”. Aku ingin menangis dan berlari berbalik arah, namun semuanya sudah sangat serba salah. Disana, di ujung sana ada banyak orang yang telah menungguku dengan angin kesia-siaanya. Aku bahkan sudah masuk dan menjadi bagian dari kesia-siaan banyak orang yang sedang berlari semangat mengejarnya.

Lalu, aku, aku entah kapan bisa berlari berbalik arah dan mengejar anginku, lalu bilang padanya, “lihat, aku bisa menangkapmu! Kamu salah kira! Kamu meremehkanku!”. Namun, itu sepertinya hanya kata-kataku, kata-kata penghiburku.

Solusiku adalah, lari sampai menuju ujung dari kesia-siaan itu, menjelaskan pada orang-orang yang ku sayangi bahwa aku ingin mulai berlari lagi ke arah anginku, aku ingin menjelaskan sambil memeluk mereka! Lalu cara nekatku adalah, dengan berteriak sangat keras ke arah kesia-siaan itu dan berkata, “kalian bodoh, itu semua kesia-siaan, kalian ditipu telak! Aku tak sebodoh kalian, aku akan pergi ke arah sana! Hahahaha”

Namun, namun aku bukanlah orang yang nekat, aku adalah orang yang bahkan terlalu lemah saat melihat kekecewaan orang lain. Bagaimana bisa aku berteriak senekat itu? Ini mungkin keputusan yang akan ku sesali seumur hidupku, tapi aku akan mengambil opsi pertama. Tak apa, mungkin ada yang menilaiku tamak, aku ingin memperoleh semuanya, dan tak mau mengorbankan sesuatu. Namun tak apa, jika memang masih sempat bagiku untuk mengejar angin itu, maka ia memang haruslah ku dapatkan. Jika tidak, maka biarlah aku hidup sampai waktu yang tidak tertentu bersama kesia-siaan itu, biarlah aku terus disana sampai jatuh kelelahan mengejarnya.

Tapi teruntukmu, yang ku kasihi. Jika kamu masih bisa berhenti berlari dan berpikir dulu sebelum terlalu “jauh mengejarnya”, maka berhentilah sejenak dan pikirkan baik-baik arah larimu.

Saat kita berhenti berlari mengejar anak kecil karna kelelahan, apa yang anak kecil itu lakukan? Cobalah, lihat apa yang ia lakukan….
Ini mungkin lucu dan terdengar bodoh, tapi aku memiliki sedikit harapan. Harapan bahwa anginku akan merasa kasihan dan… melakukan hal yang sama seperti anak kecil itu.

“Lebih baik segenggam ketenangan daripada dua genggam kerja keras dan perjuangan mengejar angin.” – (Pengkotbah 4:6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s