Lelah

Rasanya sudah lama sekali sejak tulisan terakhir blogku. Aku suka menulis, tapi terkadang kesibukan yang menyebabkan kelelahan membuatku tidak sempat menulis lagi.

Aku harap tulisanku ini nantinya bukan berisi keluhan, aku hanya ingin sekedar memberikan sedikit pandangan dari sisi lain. Sisi yang mungkin jarang diperhatikan.

Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, banyak tugas kuliah, banyak pekerjaan kantor. Dan hal ini benar-benar membuatku lelah, kesal, bosan.

Rasanya aku ingin kabur, tapi tidak bisa.
Rasanya aku ingin berhenti kuliah, tapi kata ‘sayang banget’ dari banyak orang membuatku urung untuk melakukannya.
Rasanya aku ingin ke amsterdam, memakai coat dan syal menikmati salju disana.
Rasanya aku ingin ke medan, menikmati danau toba yang indah.
Rasanya aku ingin pergi ke manado, diving di bunaken.
Rasanya aku ingin ini itu, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya.

Aku pernah cerita sebelumnya bukan? Ada satu pekerjaan yang membuatku bersukacita, meskipun terkadang disertai rasa lelah. Tapi karena kebahagiaan yang dibayarkan, rasa lelah itu seolah tidak ada artinya. Aku, aku sangat ingin kelelahanku sekarang ini karena pekerjaan itu. Tapi sayangnya, ini hal yang lain.

Rasanya aku benar-benar ingin meledak saat orang menuntutku melakukan hal yang ia inginkan tanpa melihat bahwa aku lelah.
Rasanya aku benar-benar ingin mengatakan ucapan tak lembut untuk menyadarkannya bahwa ini bukan soal dia, tapi aku kelelahan.

Baiklah, aku sampai pada kesimpulan. Terkadang banyak orang menuntut kita untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Kita, juga ingin membahagiaan mereka dengan sebisa-bisanya melakukan hal itu. Tapi, apakah mereka tahu dan merasakan apa yang aku atau kamu rasakan? Atau korbankan?

Lain lagi jika kita melakukan sesuatu, mengerahkan diri untuk sesuatu yang kita tahu sangat penting dan sangat bermanfaat. Hari ini aku belajar dari cara perhimpunan, betapa kebangkitan Yesus memberikan semangat bagi para rasul untuk mengabar tentang Allah Yehuwa dan kebangkitan PutraNya. Mereka jauh lebih berani mengabar, bahkan rela dicaci, dianiaya, bahkan dibunuh karena pelayanannya. Pertanyaan yang menarik, mengapa mereka mau melakukan itu? Pembahasan itu menjawab, karena mereka yakin apa yang mereka beritakan adalah kebenaran dan apa yang mereka lakukan akan menghasilkan upah yang luar biasa, upah dari pencipta yang mahakuasa, upah dari Allah Yehuwa.

Lalu aku melakukan perbandingan dengan apa yang kulakukan. Mengapa aku mau melakukan ini? ‘Ini’ dalam konteks pertanyaanku berbeda dengan ‘itu’ dalam konteks pertanyaan dalam paragraf sebelumnya. ‘Ini’ ku adalah kuliah, untuk pertama kalinya aku benar-benar menyesal dengan keputusan yang telah ku buat, keputusan untuk kuliah. Mengapa aku mau bertahan? Itu adalah pertanyaan yang selalu kupikirkan, tapi tak pernah kunjung hilang.

Aku adalah bejana tanah yang lemah, yang mungkin tidak mampu untuk tegas berhenti melakukannya, berhenti melakukan hal yang saat ini sangat aku sesali. Aku hanya bisa berharap pada Yehuwa, bersandar dan terus memohon kekuatan darinya.

Tetapi, setelah kamu menderita sedikit waktu, Allah segala kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh, yang memanggilmu dalam persatuan dengan Kristus kepada kemuliaannya yang abadi, ia sendiri akan menyelesaikan pelatihanmu, ia akan membuat kamu teguh, ia akan membuat kamu kuat. -1 Petrus 5:10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s