K a s i h

Kasih

Mungkin ini menjadi akhir dari sebuah cerita dan perjuanganku, sampai akhirnya aku sadar bahwa aku tidaklah sekuat itu untuk menahan rasa sakit.
Aku sadar bahwa aku tidak sekuat itu membuat orang yang ada didekatku menderita atas kebahagiaanku.
Aku terbangun, pagi kemarin dengan kemalasan dan tindakan yang ku anggap terburuk, terburuk yg sering kali aku lakukan setiap pagi.
Dulu aku tak pernah sesulit ini, sikapku dulu keras kepala dan mau menang sendiri. Aku ingin orang-orang disekitarku melihat bahwa akulah yang terbaik, akulah yang harus diperhatikan. Sangat burukkah aku?
Aku rasa tidak, dibanding dengan banyak orang di luar sana yang membentak orang tua, yang tidak peduli dengan permintaan orang tua, yang bahkan perhitungan atas kebaikan bagi orang tuanya sendiri. Salahkah aku? Ya, tentu aku salah.
Sejak lama aku sangat ingin berubah, menjadi anak yang penyabar dan pengertian, menjadi anak yang memberikan kebahagiaan bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya. Tapi, aku tak tahu kenapa dan bagaimana untuk melakukannya. Sampai akhirnya, ada satu alasan bagiku untuk berubah, alasan yang sejak dulu ku cari, alasan yang membuat ku sangat bersemangat untuk berubah. Tahukah kamu apa itu? Pencarian akan Allah.
Mungkin sekitar 3 tahun yang lalu, sosok Allah sangatlah jauh dan tak terlampaui pikiranku. Dia adalah pribadi yang sulit ku jangkau, terlalu tinggi untuk ku gapai, terlalu terhormat untuk mau mendengarkanku. Bisa ku katakan, bahwa saat itu aku bingung dan kehilangan arah, setelah berbagai macam hal ku coba untuk memperoleh alasan. Itu perasaanku, dan aku tahu setiap orang merasakan dan membutuhkan hal yang sama, hanya bedanya aku terus merasakan dan menghiraukannya, dan mereka, mungkin tidak.
Aku akhirnya belajar alkitab, aku bahagia, aku bersemangat, aku menggebu-gebu, aku bersukacita, aku bersorak-sorai, aku meluap-luap, pokoknya aku merasa bahwa diriku adalah orang paling beruntung di dunia.
Alkitab memberitahuku banyak hal, yang tidak aku dapatkan selama ini. Aku memperoleh tujuan hidup, aku memperoleh alasan untuk berupaya bersikap baik. Seraya terus memperoleh hal ini, sedikit demi sedikit aku mengubah perangai burukku, semuanya berjalan lancar, sampai akhirnya orang yang ku kasihi tidak mengizinkanku belajar alkitab lagi.
Rasanya aku begitu sakit dan kesal, mengapa, mengapa aku tidak boleh belajar lagi?
Aku berupaya untuk tetap belajar, dan sekarang aku sampai pada iman dan keadaan diri yang bahkan sulit bisa mundur lagi. Aku dipukul, aku dicerca, aku dihina, aku tak apa, dan akhirnya orang yang ku kasihi berkata bahwa ia sakit karena apa yang ku lakukan, apa yang ku lakukan karena imanku. Ia sakit dan bilang bahwa ia serangan jantung, apa dayaku? Aku menangis sampai hampir gila, aku melamun sampai kesadaranku hampir terbawa serabut angin buruk.
Jariku terluka, perih rasanya, dan itu menjadi pertanda bahwa aku sudah cukup menderita untuk hal ini. Ya Allah, sudah lama ku katakan bahwa aku tidaklah lagi menginginkan imbalan, aku melakukan ini semua karena aku sudah terlanjur mengasihimu, kasih yang bahkan sulit untuk ku hilangkan sepenuhnya. Ya Allah, itulah sebabnya aku rela seperti ini, aku tahu benar bahwa engkau tahu dan melihat keadaanku, aku yakin itu.
Ya Allah, maafkanlah aku karena kekurangan imanku, mungkin aku tak sampai hati untuk membiarkan orang yang ku kasihi sakit atas kebahagiaanku mengimanimu dengan cara yang ku anggap benar. Ya Allah, aku sangat sedih membayangkan hari-hari terakhirku melayanimu, namun apa yang bisa ku lakukan? Aku hanya bisa terus menangis.
Ya Allah, terimakasih atas 2 tahun belakangan yang berbahagia ini, terutama satu tahun belakangan ini, semua aturan moral, prinsip alkitab, pengetahuan dan terlebih persahabatan yang Engkau berikan padaku.
Cukuplah bagiku pernah mengenalMu, mudahkanlah aku untuk meninggalkan ini, berikan aku kekuatan untuk bertahan melakukan apa yang baik di mata mereka. Mungkin inilah hari-hari terakhir aku bisa berbahagia melakukan apa yang baik dimatamu. Aku tak tahu apa jadinya, hari jumat nanti saat mungkin untuk terakhir kalinya aku menghadiri peringatan yang satu-satunya engkau perintahkan di alkitab.
Aku harap aku bisa menahan air mataku, saat aku mengucapkan selamat tinggal di dalam hati bagi saudara-saudaraku yang terkasih, yang kurang lebih dua tahun ini menemaniku dalam iman.
Aku harap, aku cukup kuat untuk mengakui diri bahwa aku akan masuk kembali ke Babel besar untuk memenuhi keinginan orang yang ku kasihi, yang sekarang ini sedang kubingungkan kasihnya.
Aku harap, Engkau dan surgamu tak begitu sedih akan keputusanku yang lemah ini, jika Kau tak ingin, bantulah aku Yehuwa, bantulah aku melewati keadaan yang berat ini. Bantulah aku menghapuskan beban yang semaki hari semakin menyesakkanku.
Terima kasih, Allah yang bernama Yehuwa, terima kasih karena kesempatan bisa mengenalmu, bersahabat dan merasakan kasih sejati yang begitu indah.

Sincerely, desi
29 Mar 2015 12:56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s